Sastra Dakwah

Outlined Text Generator at TextSpace.net

Kami Tak Ingin Disebut 'Pacaran'-
Saya paham bahwa dalam Islam kita harus menjaga pandangan dan tidak boleh  bersentuhan. Namun, dalam kondisi tertentu hal tersebut sulit dijalankan. Saya pernah memiliki perasaan suka yang berbalas dengan seorang ikhwan. Saya adalah tipe orang yang dengan kondisi perasaan berbalas akan cenderung mengungkapkan perasaan saya agar hati saya lega. Awalnya hubungan kami dimulai dari SMS, yang kemudian berlanjut dengan saling telepon. Pembicaraan pun awalnya tentang organisasi yang sama-sama kami ikuti, kemudian kegiatan sehari-hari. Lama-kelamaan, pembicaraan berkembang ke seputar hal yang sebenarnya tidak penting, yang lebih menjurus kepada pribadi masing-masing. Hubungan kami pun lebih dari teman biasa. Kata-kata yang meluncur dalam pembicaraan kami pun, yah, selayaknya orang pacaran. Namun tetap, kami tidak ingin hal itu disebut pacaran. Ketika menjalani hubungan tersebut, saya merasa tidak nyaman. Saya bagai penjahat di antara orang-orang baik. Saya memang merasakan adanya kesenangan dari hubungan ini. Diperhatikan, diajak bicara, dan sang ikhwan pun memang menyatakan bahwa proses ini adalah ta'aruf versi dia. Lumrah kan? Namun, karena lingkungan kami yang memang dekat dengan nilai agama, kami pun menyembunyikan hubungan kami. Guru ngaji dan teman-teman satu pengajian tidak ada yang mengetahui. Saat rapat organisasi pun, kami berusaha menekan perasaan, sehingga tidak nampak hubungan dekat di antara kami. Jadi, ketika keluarga saya mulai bertanya-tanya mengenai hubungan kami, saya pun bisa dengan mudah menjawab bahwa kami banya teman, karena statusnya memang tidak ada. (Akhwat,21 tahun, mahasiswi di Jakarta)


-Rencana Menikah 3 Tahun Lagi-Saya ketemu dengan dia di senat. Awalnya sih nggak ada motivasi yang jelas. Waktu itu dia sedang ada masalah. Kemudian dia menambatkannya ke saya. Akhirnya, seiring waktu, saya merasa bertambah dekat. Di mata dia, saya ini adalah orang yang bisa  memimpin dia dan kalau menyampaikan sesuatu tidak kaku. Akhirnya dia merasa, inilah yang dia cari. Saat itu saya sedang tidak dalam kondisi ‘mencari.' Tapi ketika hubungan ini dijalani, saya merasa nyaman. Saya juga merasa dihargai atas pilihan ini. Saya masih tetap ikut liqo, dan saya percaya selama tidak berhenti mencari, hidayah akan datang. Tapi ada sejumlah hal yang belum bisa saya kompromikan; saya ngaji, tapi saya suka nonton, main PS (play station), kenalan dengan orang, tebar pesona. Mungkin orang melihatnya, ikhwan kok kayak gini? tapi saya jadi merasa seperti dihimpit dari mana-mana. Siapa saya, jati diri saya, identitas saya? Pergolakan batin, tentu ada, Bahkan saya sempat ingin keluar dari tarbiyah. Tapi pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa saya masih berproses, dan buat saya apa yang saya jalani ini adalah bagian dari proses saya. Saya nggak mau menyebut ini pacaran. In a relationship, mungkin tepatnya.  Biasanya kami SMS-an, telepon berjam-jam, ngobrol, main ke rumah. Kalau di kampus saling bantu kerjaan, nonton satu-dua kali, makan, jalan, dengan intensitas yang jarang. Dia memanggil saya Mas, saya panggil dia Adek. Kami bilang sayang, cinta, I love you, ya begitulah. Saya sudah berhubungan selama 2 bulan, dan menurut saya ini sudah sangat serius. Saya juga sudah kenal keluarganya. Rencana ke pernikahan jelas ada, yaaa...mungkin 3 tahun lagi deh. Kalau bicara soal putus, jadi agak aneh juga, sebab sewaktu dia putus dengan cowoknya dulu, itu karena ketika dia berubah menjadi lebih baik, tidak diikuti oleh cowoknya. Makanya saya merasa, saya yang harus mengarahkan, baiknya begini, seharusnya begini, begitu. Saya bilang, kita lanjutkan saja, dan siap dengan apapun hasilnya nanti. Yang penting saling mengikhlaskan satu sama lain, jangan jadi halangan untuk masing-masing. Jadi kalaupun kita putus, kita sudah siap, karena hubungan ini memang dibangun dengan banyak kompromi. (Ikhwan, mahasiswa di Depok)


-Hanya untuk Senang-senang-Sebagai seorang akhwat, aku dekat dengan lingkungan yang memahami ajaran Islam. Namun, kadang aku jenuh dengan aktivitasku dan membutuhkan tempat untuk menumpahkan isi hati. Aku sangat berharap teman-teman akhwatku dapat membantu. Tapi, mereka sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk mendengarkan keluh kesahku. Mulailah aku menjalin hubungan dengan seorang ikhwan. Kami tidak berpacaran, karena hal itu memang dilarang Islam. Namun, aku juga rnemiliki kebutuhan akan pemenuhan perasaan yang kumiliki. Hubungan inipun kujalani hingga akhirnya aku merasa memiliki dan tergantung padanya. Dia adalah kakak kelasku di SMA dan ketika aku kuliah banyak memberikan inforrnasi mengenai kehidupan kampus. Meski kami tinggal di kota yang berbeda, kami tetap berkirim SMS dan telepon. Ketika masa libur tiba, kami selalu bertemu di kota asal kami. Bersama teman-teman, kami menghabiskan liburan bersama, mulai dari mengunjungi sekolah, pergi ke mall, atau ke pantai. Tapi, semua itu kami lakukan masih dengan menjaga adab-adab pergaulan menurut Islam. Tidak berduaan dan tidak bersentuhan. Namun, kami tetap tidak bisa menjaga hati kami. Aku menjalani ini hanya untuk senang-senang saja. Belum terpikir untuk melangkah ke hubungan yang lebih lanjut karena kami masih terlalu muda. Hanya saja, yang membuat aku meneruskan hubungan ini adalah cara kami yang memasukkan unsur-unsur ibadah dalam hubungan ini. Kami membicarakan dakwah dan rekruitmennya, saling memberi tausiyah, bahkan mengingatkan untuk shalat wajib maupun tahajud. Itulah yang membuat kami merasa hubungan ini benar adanya, Banyak pihak telah memperingatkanku. Bahkan beberapa teman mengancamku akan melaporkan kepada guru ngaji. Namun, di saat perasaan sayang itu muncul, aku pun kebal dengan peringatan-peringatan. Lalu akhirnya, jalan HTS (hubungan tanpa status) pun tetap kupilih karena terlihat lebih mudah bagiku. (Akhwat, 20 tahun, mahasiswi di Jakarta)


-Hampir Setiap Hari Menelpon-Cerita saya bermula di bulan Ramadhan. Kala itu, saya membutuhkan pengisi acara untuk buka puasa bersama anak yatim yang diadakan BEM kampus. Akhirnya, salah seorang teman rnemberikan nomor kontak seorang ikhwan. Namun, di hari H, ikhwan itu tidak hadir karena sakit. Ia pun meminta maaf lewat SMS. Saya menanggapinya biasa saja, sebab sakit kan datangnya tanpa diundang. Beberapa waktu kemudian, ia mengontak untuk menanyakan kabar teman saya yang mengenalkan saya padanya. Tak dinyana, sejak itu ia terus mengontak saya via SMS. Awalnya SMS yang ia kirimkan biasa-biasa saja. Namun, lama-kelamaan, intensitasnya meningkat dan melebihi kadar kebiasaan. Isinya pun kebanyakan hal yang tidak penting. Saya selalu membalas SMS-nya, karena saya orangnya nggak enakan. Apalagi, saat itu bulan Ramadhan, ia sering SMS  menanyakan puasa dan tarawih, juga membangunkan saya untuk makan sahur. Kemudian ia mulai menanyakan boleh tidak kalau menelepon, karena lebih leluasa dibanding SMS. Awalnya saya tolak. Saya takut ini akan melebar ke mana-mana, Tapi akhirnya saya iyakan, karena lagi-lagi saya merasa nggak enak. Hampir setiap hari ia menelepon. Kalau dia nggak menelepon, saya yang meneleponnya. Dalam SMS-nya kadang ia menyelipkan kata-kata "I miss you" atau menyapa dengan "hai Say!" Kami juga cepat nyambung karena ia tipe senang bercerita dan saya pendengar yang baik. Jadi klop. Seiring waktu, rasa suka terhadap dia pun mulai tumbuh. Padahal, belum sekalipun saya bertemu muka dengannya. Saya merasa senang dengan hubungan ini karena saya merasa ada yang memperhatikan. Saya terlena. Saya tahu ini tidak boleh. Tapi saya seperti mendapat pembenaran karena ia telah lebih dahulu mengaji dibanding saya. Hubungan kami seperti orang pacaran. Bedanya, ada atribut ikhwan dan akhwat yang melekat pada kami, dan sama-sama tahu bagaimana adab bergaul dalam Islam. Alhamdulillah...itu semua sudah berlalu. (Akhwat, 24 tahun, mahasiswi di Jakarta)


-Berharap Bisa Menikah dengan Dia-Saya menjalin hubungan dengan ikhwan X ketika sama-sama sudah tarbiyah, di kampus dulu, kira-kira 4 tahun yang lalu. Awalnya saya dan dia curhat mengenai masalah yang sama-sama kami rasakan dalam tarbiyah. Lama kelamaan, mengalir begitu saja. Mungkin karena dia lebih tua, saya pikir saya bisa menjadikan dia seperti kakak. Tapi malah bablas... Kami lebih sering berkomunikasi lewat SMS dan telepon. Kalau ada masalah, saya curhat ke dia, karena saya sudah menganggap dia seperti kakak sendiri. Kalau butuh apa-apa, ya saya ke dia. Dibanding dia, saya yang lebih banyak curhat. Dan saya selalu enjoy dengan solusi yang diberikannya. Selain itu, dia juga care. Kadang dia bilang di SMS-nya, "Met kerja, Say!" Tapi itu baru di tahun ini, sebelumnya tidak pernah begitu. Kalau dari saya, paling saya memanggil dia dengan "Mas" atau "Kakakku yang ganteng". Saya akui saya ada ‘rasa‘ sama dia. Dia pun saya nilai begitu juga. Namun kita sama-sama memberi kebebasan kalau mau taaruf dengan ikhwan atau akhwat lain. Setiap masing-masing kami bertaaruf, kami saling memberi tahu. Tapi sampai sekarang, belum menemukan yang cocok. Saya juga pernah coba pancing dia dengan ngomong, lebih baik kita menikah. Tapi dia selalu cari alasan, dan bilang, ya kita jalani dulu saja. Dulu saya pernah ta'aruf sama ikhwan lain, hampir mau nikah. Tapi nggak jadi karena saya sudah telanjur bergantung sama X. Setiap saya taaruf dengan ikhwan lain, saya suka membanding-bandingkannya dengan X. Saya juga jadi ragu untuk melanjutkan ke pernikahan. Kalau misalnya jadi, kasihan suami saya kalau dia tahu saya punya TTM (Teman Tapi Mesra). Saya ingin meng-cut hubungan ini dengan mencoba ‘menghilang' dari dia, sama sekali tidak ada komunikasi. Tapi itu hanya bisa bertahan satu minggu. Saya berharap hubungan yang sudah sekian lama terjalin ini nggak sia-sia dan kami akan menikah. Tapi kalau memang belum bisa menikah dengan dia, saya ingin dia yang meng-cut. Saya nggak bisa bilang kalau dia bukan jodoh saya. Karena jodoh atau bukan kan kita tahu kalau sudah ada usaha. Sedang dia kan belum usaha. Kalau misalnya dia menikah dengan akhwat lain, mungkin saya sedih beberapa hari saja. Memang bukan jodoh, dan saya akan membuka hati untuk calon suami saya. Tapi, saya belum yakin, apakah saya bisa melakukan itu. (Akhwat, 25 tahun, fresh graduate dari Semarang)

Categories: ,

Leave a Reply